Tak ada yang lebih membahagiakan Refan selain hunting foto dengan kameranya. Ia kadang mengkhususkan kegiatannya dengan membawa semua perbekalan yang dibutuhkannya, termasuk makanan, selain tentu saja kamera kesayangannya. Kamera yang diperolehnya dengan susah payah setahun lalu dari seorang fotografer profesional.
Bagi Refan, menyusuri desa-desa di pinggiran kota kelahirannya itu adalah healing yang tak bisa digantikan apapun. Di sana ada daya tarik dan ketenangan tersendiri bagi Refan yang tak didapatnya di pusat kota.
Bocah-bocah yang lebih lugu. Para petani yang sederhana. Dan keasrian alam desa yang murni seakan menjadi dopamine untuk Refan. Dia bahkan bisa berlama-lama di sana. Pulang saat menjelang petang, dengan bermacam foto memenuhi memori kameranya.
Di hari-hari lain saat tidak membawa kameranya, Refan akan menggunakan ponselnya untuk mengambil foto apapun yang menarik perhatiannya. Kecuali foto manusia.
“Dapet foto apalagi hari ini?” ayahnya melongok kamera Refan.
“Bapak gak bakal ngerti.”
“Apanya yang Bapak ngerti. Fotomu itu kalau gak isinya tanaman, serangga lalu apalagi itu. Mbok foto cewek-cewek cantik itu lho biar ibumu cepet dapet mantu.”
“Bapak, ngomong apa sih,” ibu Refan meletakkan dua cangkir teh bersama ubi rebus di atas meja.
“Halah ubi rebus lagi? Kamu gak punya makanan lain to?”
“Yo sini duitmu yang banyak, ta ke toko roti di sana.”
“Itu lebih sehat, Pak, dibanding roti yang isinya tepung doang,” Refan menengahi. “Aku besok mau ke Nanggulan lagi deh kayaknya.”
“Ibu ikut, Le.”
“Refan cuma mau hunting foto lho. Ibu sama Bapak saja kalau mau ke sana. Repot.”
“Diikuti ibunya kok repot. Jangan ngawur kamu.”
“Ibu itu suka gak jelas maunya, bikin bingung. Aku kan juga punya tujuan ke sana, gak cuma main-main, healing kayak Ibu.”
“Tuh, anakmu lho yang bilang kamu suka gak jelas maunya. Ditanya mau makan apa terserah, nanti dibelikan pecel malah merajuk mau bakso.”
“Gak usah curhat dong, Pak,” kata Refan.
“Kamu belum aja punya istri.”
“Yaelah, Pak, jangan kejauhan ngomongnya. Aku baru semester empat lho.”
“Hei, semester empat itu mestinya sudah punya pacar. Jadi kalau wisuda, Ibu tinggal melamar. Kerja setahun terus nikah.”
“Aku mau kuliah dulu ke luar negeri. Gak mau buru-buru nikah.”
“Padahal Ibumu sudah kepingin dipanggil Uti lho, Fan,” ledek ayah Refan.
“Itu anak-anak tetangga sudah banyak yang manggilnya Uti ke Ibu.”
“Kamu itu kalau diajak ngomong memang mirip Bapakmu.”
“Lho kok jadi aku to yang disalahkan.”
“Lah terus aku kudu nyalahkan siapa? Wong Refan ada juga karena kamu kok.”
“Biasa deh, rame sendiri berdua,” kata Refan.
Ia kemudian memindahkan foto-fotonya dari kamera ke laptop. Menyortirnya satu-persatu ke folder yang dia buat sebelumnya. Refan mengorganisirnya dengan sangat rapi agar kelak ia tak kesulitan mencari jika membutuhkannya.
“Kuliah teknik kok laptopnya isinya cuma foto,” komentar ayahnya.
“Blas gak ada foto ceweknya, Fan?”
“Ibu apaan sih? Gak usah bahas begituan emang gak bisa? Risih tauk.”
“Kamu sudah mau dua puluh satu tahun lho, Fan.”
Refan berdecak kemudian berpindah memboyong semua peralatannya masuk ke kamarnya.
“Biarin sih, Bu, wong dia masih mau sekolah kok kamu malah yang ngebet pengin mantu,” kata ayah Refan.
*
Sejak pagi, Refan sudah pergi menggunakan sepeda motornya. Sebuah tas ransel tersandang di punggungnya berisi peralatan memotret berserta tumbler dan makanan.
Ia pergi sendiri seperti biasanya. Membawa sepeda motornya menjauhi hiruk-pikuk kota yang selalu ramai dengan manusia, mencari tempat yang jauh lebih hijau dan lapang.
Di dalam tasnya, Refan juga membawa buku sketsa yang bisa ia corat-coret kapan saja. Ide itu kadang muncul begitu saja di kepalanya, dan dia harus menyelesaikannya secepatnya sebelum hilang atau tertumpuk ide-ide lainnya yang datang kemudian.
Matahari bersinar malu-malu hari itu. Sinarnya yang teduh membuat perjalanan Refan menjadi lebih ringan. Beberapa temannya memang ada yang meminta ikut, sama seperti ibunya. Tapi Refan enggan jika kemudian ia hanya dimanfaatkan menjadi juru foto mereka.
Di pinggir sebuah hamparan sawah, Refan berhenti. Memarkir sepeda motornya di tempat yang relatif aman dari lalu-lalang orang dan kendaraan lain. Lalu mulai bekerja mengeluarkan peralatan memotret dari dalam tasnya.
Dia selalu menyukai bentang alam yang menghijau dengan warna biru langit yang bertemu di ujung cakrawala sana. Makhluk-makhluk kecil yang kadang tertangkap kameranya tanpa sengaja. Atau tawa orang-orang yang tertangkap lensanya dari kejauhan.
Sebuah jip terbuka melintas. Di atasnya penuh dengan orang-orang kota yang haus akan healing. Refan pernah diminta menjadi fotografer khusus untuk wisata, tapi ia menolak tegas. Refan sama sekali tak tertarik meski ditawari bagi hasil yang cukup menggiurkan.
“Fan, ayo to, fotomu kan bagus. Sayang lho. Ambil weekend saja kalau pas gak kuliah. Toh ramai pengunjung juga saat weekend,” rayu Sapto yang menjadi salah satu pengelola kawasan wisata di Nanggulan.
“Ndak usah, Mas. Juru foto Mas Sapto kan sudah banyak. Ndak enak kalau saya juga ikut-ikutan. Saya biar hunting foto alam saja.”
“Ah, kamu ini. Sayang lho bakatmu. Fotomu kan apik.”
“Mereka juga bagus-bagus kok, Mas. Saya gak biasa moto orang, nanti malah pada kecewa kalau anglenya kurang bagus,” Refan beralasan.
Dia terlalu menikmati hobbynya itu, hingga tak ingin menjadikannya profesi yang membuatnya harus bekerja di bawah perintah orang lain. Ia lebih suka bekerja sendiri. Mengatur sendiri ritme pekerjaannya, tanpa diperintah orang lain.
“Mas Refaaaan, fotoin Mas,” beberapa anak kecil yang sedang bermain berteriak riang begitu melihat Refan
Refan memang sudah beberapa kali ke daerah itu. Ia sempat berkenalan dengan anak-anak yang pernah ia jumpai. Mereka begitu senang ketika Refan mengambil gambar mereka yang sedang bermain di alam bebas.
Sesekali Refan akan meminta mereka melakukan pose seperti yang Refan mau agar ia bisa mempraktekkan beberapa teknik fotografi yang dipelajarinya secara otodidak melalui internet. Dan hasilnya ternyata tak pernah mengecewakan.
“Mas, besok dicetak gede iso gak to?” (Mas, besok dicetak besar bisa enggak ya?”
“Mau buat apa?”
“Ditaroh di rumah to. Kan apik.”
“Ya nanti ta cetakkan. Kamu tulis alamat rumahmu sama nomor telepon bapakmu, jadi nanti ta kirimkan.”
“Nanti saja kalau Mas Refan ke sini lagi dibawakan.”
“Gak bisa janji kalau itu. Gak tahu kapan ke sini lagi.”
“Aku gak hafal nomer Bapak."
“Ya sudah, tulis saja alamat lengkapnya di sini,” Refan mengeluarkan notes dan pulpennya.
Anak-anak itu terlihat begitu gembira. Dan Refan senang setiap kali melihat mereka bersepeda bersama di sepanjang jalan di sisi saluran irigasi, maupun ketika mereka bermain di lapangan desa atau di pematang sawah.
Refan memiliki beberapa gambar wajah-wajah jujur mereka yang seolah menyatu dengan alam. Inilah yang membuat dirinya lebih suka menyusuri jalan-jalan di pedesaan untuk hunting foto dibandingkan dengan menyusuri daerah perkotaan.
“Mas Refan kapan ke sini lagi?”
“Emh belum tahu.”
“Opo dewe wae nyang Yogjo?” (Apa kita saja yang ke Jogja?)
“Sangune kudu okeh jeh.” (Uang sakunya harus banyak.)
“Nanti dianterin ke sini kalau sempet. Atau dikirim saja pakai pos atau paket ekspedisi biar orang tua kalian gak repot.”
Anak-anak itu pun mengangguk setuju seolah mereka tak punya pilihan lain, meski pergi ke kota jelas pilihan yang menarik.
***