Bab 6: Sidang

1062 Kata
Lyra berdiri di dekat pos security, tak berani beranjak jauh dari sana. Malam sudah semakin larut. Aroma kehidupan malam sudah semakin pekat. Orang memang masih banyak yang lalu-lalang. Tapi wajah-wajah itu membuat Lyra menyesal tak menuruti orang tuanya. Tapi benarkah yang dikatakan bartender itu? Lyra masih sangsi bahwa mereka akan bertindak sejauh itu padanya. Meski ia tahu alkohol dan free s*x mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan malam metropolitan. Sebuah mobil bergerak melambat, membuat Lyra berlari kecil ke arah trotoar. “Cepat masuk,” ibunya membuka jendela begitu mobil berhenti di sisi Lyra berdiri. Lyra meloncat cepat. Ia memegang erat jasnya agar menutup seluruh tubuhnya. “Ngapain kamu keliaran di tempat begini,” bentak ayahnya. “Papa,” ibunya menyentuh lengan ayahnya dengan lembut, membuat laki-laki itu menghela napas kemudian menekan kembali pedal gasnya. Perjalanan itu berlalu dalam hening. Baik ayah maupun ibunya tak ada yang bicara. Tapi keheningan itu justru terasa lebih mencekam bagi Lyra. Ia lebih baik mendengar ayahnya marah-marah dan ibunya akan sibuk menenangkan dibandingkan mereka diam seperti itu. Lyra tak berani bersuara. Ia diam di kursi belakang menekuri kesalahannya. Ibunya turun untuk membukakan pintu gerbang begitu mobil mereka sampai di depan rumah. Ayahnya hanya diam saja. Tapi Lyra tahu laki-laki itu sedang berusaha menahan amarahnya. “Ayo turun,” ibunya membukakan pintu setelah mobil berhenti. Lyra turun perlahan sembari menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah ibunya. Ia berjalan masuk mendahului kedua orang tuanya. “Lyra,” panggil ibunya saat Lyra baru menjejak dua anak tangga menuju kamarnya di atas. “Ya, Ma,” Lyra berbalik, bersiap turun kembali untuk menghadapi kemarahan kedua orang tuanya. “Besok kita bicara. Sekarang sudah malam. Mama harap, tak ada lagi yang kamu sembunyikan dari Mama dan Papa,” ucap ibunya. Lyra mengangguk. Dia menaiki tangga sembari tertunduk. “Mestinya gak Mama biarin dia,” terdengar suara ayahnya memprotes ibunya. “Pa, dia itu beneran panik waktu telepon Mama. Biarkan dia istirahat dulu. Biar tenang pikirannya.” “Mama gak lihat pakaiannya?” “Lihat. Dan Mama juga tahu itu bukan pakaian Lyra. Papa jangan emosian begitu. Gak bisa ngedepin anak sekarang emosian begitu.” * Lyra membuka matanya perlahan. Cahaya matahari masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka tirainya. Kepalanya terasa sakit karena ia tidur setelah dini hari. “Mama,” ia mengerjap melihat bayangan ibunya yang duduk di ujung ranjang dengan tersenyum lembut. “Minum dulu,” ibunya mengulurkan segelas air putih hangat. “Mama gak ke kantor?” tanyanya sembari melirik jam di nakas. “Cuti. Ayo turun sarapan. Sudah ditunggu Papa.” “Papa juga belum berangkat?” “Nunggu kamu berangkatnya.” “Lyra ke kamar mandi bentar ya. Mama tunggu saja di bawah.” Lyra tak menyangka kedua orang tuanya akan menunggu dia bangun, hingga rela tak berangkat ke kantor. Padahal kedua orang tuanya bukanlah orang yang bermudah-mudahan untuk datang terlambat atau mengambil cuti. Di ruang makan kedua orang tuanya sudah menunggu. Ibunya mempersilakan makan terlebih dahulu. Sementara ayahnya terlihat gusar menunggu. Susah payah, Lyra berusaha menelan sarapannya. Hingga saat ia selesai, asisten rumah tangga mereka segera membereskan meja makan. “Lyra sudah siap,” ucap Lyra akhirnya, seperti seorang terdakwa yang siap menerima putusan bersalah. Kedua orang tuanya saling melirik. “Papa yang akan bicara. Lyra dengarkan baik-baik. Mama harap, tidak ada saling membantah apalagi berteriak,” ucap ibunya lembut tapi berwibawa. Lyra mengangguk. Ia sudah tak punya pilihan kini. Meski tak melakukan hal di luar batas tadi malam, tapi keluar malam-malam tanpa ijin sudah merupakan pelanggaran berat di rumahnya. Dia menceritakan dengan hati-hati, bagaimana mulanya Ariana mengajaknya keluar hingga berakhir ia harus menelpon ibunya untuk meminta dijemput. Bagian tentang Mike, ia potong dengan selektif, kecuali bahwa Mike memang meminjamkan jasnya. “Kamu yakin gak ada yang kamu sembunyikan. Kamu gak minum sama sekali? Gak sentuh alkohol dan sejenisnya?”suara ayahnya terdengar meninggi. “Enggak, Pa. Lyra takut. Memang sempet dipaksa minum.” Terdengar helaan napas berat dari ibunya. “Maaf, Lyra tahu, Lyra salah.” “Sekarang ceritakan darimana kamu mengenal Ariana dan kawan-kawannya ini.” “Papa, Lyra janji akan jauhi Ari dan gengnya.” “Ceritakan, Lyra. Papa mau dengar.” Lyra tahu akan kemana arah pembicaraan ayahnya. Dia mungkin salah memilih teman. Tapi dia tak ingin aktivitasnya ikut diboikot kedua orang tuanya. “Lyra,” ibunya memanggilnya dengan nada tegas. Lyra akhirnya menceritakan bagaimana awal mula perkenalannya dengan Ariana dan teman-temannya. Termasuk kegiatannya di komunitas yang mempertemukannya dengan mereka. “Kamu tahu kenapa Papa sama Mama gak setuju sejak awal kamu main begituan? Karena ini, Lyra. Pergaulan yang gak terkontrol. Sekarang siapa yang bisa menjamin, bahwa mereka yang keluyuran malam hari begitu akan bersih dari rokok, alkohol, drugs atau free s*x jika nongkrongnya saja di tempat begitu.” Lyra ingin membantah, tapi sorot mata ibunya membuatnya mengurungkan niat. Ayahnya memang ada benarnya. Tapi tak semuanya terlibat semua hal buruk itu. “Papa dan Mama sudah putuskan, kamu akan ke Jogja hari ini dengan Mama.” “Papa,” Lyra membelalak kaget. Baginya, ke Jogja berarti ia diasingkan. Dibuang. “Hanya sampai pengumuman kelulusan kamu, Sayang. Setelah itu kita pikirkan bersama bagaimana baiknya,” jelas ibunya. “Lyra gak mau.” Ayahnya bangkit. Jelas sekali tak mau menerima negosiasi Lyra. “Aku harus ke kantor,” dia mengecup kepala istrinya. “Hati-hati nyetirnya, Pa. Jangan kebawa emosi,” pesan ibu Lyra pada suaminya. Lyra masih duduk bersama ibunya di meja makan. Di luar terdengar suara sepeda motor ayahnya. Tanpa diberi tahu pun, Lyra sudah mengerti mengapa ayahnya hari ini memilih menggunakan sepeda motor. “Kereta kita setelah dzuhur, Lyra. Kamu masih ada waktu untuk berkemas. Bawa saja yang penting untuk beberapa hari ke depan.” “Mama, jangan buang Lyra,” air mata itu akhirnya menetes. “Tidak. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu. Mama dan Papa hanya ingin mengamankan kamu. Kamu tahu kan sekeras apa Papamu? Mama gak mau kalian saling menyakiti jika kamu memaksa tetap di sini.” “Lyra gak mau tinggal sama Eyang.” “Hanya sementara, Sayang. Beberapa hari saja. Mama dan Papa akan temani kamu sampai akhir pekan. Anggap saja kita lagi jalan-jalan sambil menunggu semua tenang okay?” Lyra menggeleng. “Kenapa Mama Papa setega itu sama Lyra.” “Lyra, Mama dan Papa sedang berusaha menyelamatkan masa depan kamu.” “Enggak. Lyra gak mau.” Lyra berlari menuju kamarnya. Tangisnya meledak di sana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN