Semakin lama, Lyra makin tak bisa menghindar ketika genk barunya tersebut mengajaknya nongkrong bersama. Mall dan club menjadi tempat rutin pertemuan mereka.
Lyra duduk di meja bar sambil menikmati musik yang berdentum. Teman-temannya sudah turun lebih dulu. Ia bisa melihat jelas bagaimana wajah gembira mereka meliuk-liukkan tubuh sexynya di antara pandangan mata lelaki yang jelas-jelas menaruh minat pada mereka.
“Ayo, Ra,” Ariana menarik Lyra turun ke lantai dansa.
Dia adalah gadis yang paling sexy diantara mereka berlima. Tubuhnya proporsional. Kulitnya sedikit eksotis tapi jelas terawat. Dan dia yang paling humble di antara semua. Tubuh Ariana yang bergoyang indah selalu menjadi pemandangan segar bagi pandangan mata lelaki.
“Lihat sekelilingmu, tapi jangan sampai salah pilih,” Ari memperingatkan.
Lyra mengernyit bingung membuat Ari tertawa renyah. Dia mengibaskan rambutnya dengan menggoda.
“Lyra sayang, jangan terlalu lugu. Laki-laki itu banyak yang merhatiin kita. Kita tinggal pilih satu yang kita mau,” Ari meletakkan kedua tangannya di atas pundak Lyra.
“Elo kali yang diperhatikan, bukan kita.”
Ari tertawa. Dia menyapu pandangannya ke sekelilingnya. “Lihat gue dan ikuti.”
Lyra tahu apa yang akan dilakukan Ari selanjutnya. Menyalakan sinyal hijau pada laki-laki yang diincarnya, kemudian mereka akan terlihat begitu dekat seolah bukan baru bertemu. Setelahnya mereka akan menghilang entah kemana.
Lyra menggeleng pelan. Mana mungkin ia mengikuti jejak Ari. Bisa-bisa ayahnya akan mengusirnya dari rumah. Lyra masih belum sanggup hidup tanpa orang tua seperti mereka. Meski ayahnya begitu keras, tapi bagi Lyra, itu lebih baik daripada tanpa ayah.
Lyra berbalik hendak duduk kembali di kursinya. Tepat saat ia menengok ke arah panggung, seseorang di balik perangkat disk jokey itu menatap ke arahnya. Jantung Lyra berdebar keras. Ia berbalik cepat. Pasti bukan dirinya kan yang dilihat DJ itu?
*
Lyra berusaha keras untuk memejamkan matanya. Beberapa hari ini ia kesulitan tidur. Bayangan itu serupa hantu yang terus mengikutinya. Lyra bahkan tak mengenal laki-laki itu kecuali bahwa dia seorang DJ.
Ponselnya berbunyi. Nama Ariana muncul di sana.
“Hallo.”
“Ra, gue jemput ya sekarang.”
“Hah?” Lyra menengok jam di atas meja belajarnya. Sepuluh lewat. “Sudah jam sepuluh, Ri.”
“Halah baru juga jam sepuluh. Gue udah di jalan. Gak ada setengah jam lagi gue nyampe.”
Lyra menggeragap. Apa-apaan ini. Bagaimana caranya ia bisa keluar rumah tanpa orang tuanya curiga. Lyra keluar dan melongok ke bawah. Sudah sepi memang. Biasanya jam sembilan, kedua orang tuanya sudah masuk kamar.
Lyra menimang beberapa lama. Tak pernah ia pergi menyelinap malam-malam tanpa berpamitan pada orang tuanya. Ia berdiri menatap isi lemarinya beberapa lama. Membayangkan wajah kecewa ibunya jika menyadari dirinya tak ada di kamar.
Lyra tahu, ibunya punya kebiasaan bangun malam dan mengecek kamar anak-anaknya satu-persatu. Berdiri diam dalam kegelapan beberapa saat untuk kemudian keluar lagi. Entah apa yang dilakukannya.
Lyra turun perlahan sambil membawa ponselnya. Mengendap-endap serupa pencuri yang meninggalkan rumah. Sebuah mobil berhenti tepat saat Lyra mencapai gerbang. Lyra membuka gerbang perlahan.
Pintu depan mobil itu terbuka. Ariana duduk di balik kemudi dengan pakaian super sexy.
“Masuk!” perintahnya pada Lyra.
Dan Lyra entah kenapa menurut begitu saja. “Ri, gue gak bisa deh,” ucapnya tanpa menutup pintu di sisinya.
Ariana tiba-tiba menekan gas. “Tutup pintunya!” perintahnya.
“Ari,” Lyra panik hingga membuat Ariana tertawa.
“Gue tahu lo bakalan nolak!” Ariana melemparkan paper bag pada Lyra tanpa menurunkan kecepatan mobilnya.
“Ri, apa ini?”
“Baju ganti buat lo! Pengertian kan gue?”
Lyra melongo. Kendaraan kecil itu melaju semakin jauh meninggalkan kompleks rumah Lyra. Lyra menengok ke belakang sebelum mereka berbalik, khawatir orang tuanya tiba-tiba terbangun dan keluar menyusulnya.
“Kita have fun malam ini, Lyra. Gue bakal kenalin lo sama seseorang yang kece abis.”
Lyra mengeluarkan isi paper bag yang diberikan temannya itu. Sebuah rok mini hitam dan atasan one shoulder tanpa lengan warna merah.
“Ri, ini?”
“Pakai aja. Lo pasti kelihatan sexy kalau pakai itu.”
“Kayaknya gue mending balik aja deh, Ri.”
“Gak akan, Lyra. Lo harus temenin gue party sampai pagi.”
“Ri,” Lyra menggeleng.
“Gue jamin lo gak akan nyesel,” mobil Ariana memasuki kawasan tempat hiburan malam yang menjadi tujuannya. Dia menggeleng melihat temannya masih saja menggunakan baju tidurnya.
“Sini aku bantuin ganti baju. Lepas celana pendekmu itu.”
“Gue gak yakin, Ri.”
“Udah buruan. Percaya gue.”
Lyra akhirnya menurut. Ia melepas celana pendek dan atasan yang menjadi baju tidurnya dan menggantinya dengan baju yang diberikan Ariana. Ukurannya memang pas untuk Lyra tapi terlalu terbuka.
“Tali BH lo perlu dilepas deh, Ra. Sini,” Ariana sudah bergerak sebelum Lyra sempat menolak. Gadis itu bahkan memulas wajah Lyra dengan make-up dan lipstik merah menyala.
“Lets’s go to the party,” Ariana meraih clutchnya dan membuka pintu di sisinya.
Lyra akhirnya mengikutinya meski merasa tak nyaman dengan pakaiannya yang terlalu terbuka.
“Lo sexy banget tahu enggak,” Ariana merangkul pundak Lyra. Senyumnya mengembang lebar.
*
Lyra berulang kali menarik ujung roknya yang pendek. Ini pertama kalinya ia mengenakan rok sependek itu hingga separuh pahanya. Dari pantulan pada lift tadi, ia memang terlihat sexy.
Ariana menyodorkan segelas minuman pada Lyra. “Cobain.”
Lyra menggeleng. Ia tahu itu minuman beralkohol. Dia belum seliar dan sebebas itu untuk mencoba segala rupa aksesoris yang melekat pada kehidupan malam.
“Coba aja dulu,” Ariana memaksa.
Lyra menolak. Seseorang dengan tato di tangan kirinya kemudian menghampiri mereka.
“Hai,” sapa laki-laki itu.
“Hai Mike,” Ariana menyambut Mike dengan ramah, mereka saling memeluk dan menempelkan pipi kanan dan kiri.
“Kenalin, temen gue, Lyra” Ariana menunjuk Lyra. “Lyra, ini Mike. Dia DJ terkenal lho,” promosinya.
Lyra mengangguk pelan. Jantungnya berdegup lebih kencang.
“Bisa aja. Hai Lyra,” Mike mengulurkan tangannya sembari menyebut namanya, “Mike.”
“Lyra,” Lyra menyambut tangan Mike.
“Siap party sampai pagi nih,” ucap Mike.
“Tentu saja,” Ariana mengangkat satu tangannya dan mulai menggoyangkan badannya.
***