Seorang laki-laki menghampiri mereka dan menarik Ariana turun ke lantai dansa meninggalkan Lyra dan Mike berdua. Ariana menyerahkan gelasnya pada Mike yang langsung meneguk habis isinya. Ia memberi isyarat pada laki-laki itu untuk menemani Lyra.
“Mau turun juga?”
Lyra menggeleng.
“Duduk yuk. Aku traktir minum.”
Mike beranjak ke meja bar. Lyra mengikuti dan duduk di dekatnya. Dia mengalihkan pandangannya dari Mike, menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
“Kenal Ari di mana?” tanya Mike.
“Dari temen.”
Mike mengangguk. “Kamu minum alkohol?”
“Emmmh,” Lyra terlihat ragu. Dia tak ingin terlihat cupu. Tapi wajah ayah dan ibunya di rumah membuatnya merasa bersalah.
Mike akhirnya memesankan orange juice untuk Lyra. “Kalau belum pernah mending jangan pernah mencoba sekalian,” ucapnya.
Lyra menengok tepat saat Mike tersenyum padanya, membuat jantung Lyra terasa seperti habis lari maraton. Wajah Lyra memerah. Ia memalingkan pandangannya ke arah lantai dansa.
Di sana, Ariana tak lagi sendiri. Ada tiga orang temannya yang lain yang sudah bergabung dan melambaikan tangannya pada Lyra. Mereka tampak begitu lepas menari berpasang-pasangan.
Laki-laki yang menjadi pasangannya, terlihat begitu leluasa menyentuh setiap lekuk tubuh Ariana tanpa gadis itu merasa risih. Lyra menunduk malu.
Disadarinya, pakaiannya pun tak jauh berbeda dengan temannya itu. Dan ketika ia dalam posisi duduk seperti ini, rok mini itu tertarik ke atas, hingga nyaris menunjukkan seluruh pahanya.
Lyra bergegas turun dari kursinya dan menarik ujung roknya yang memang pendek itu. Mike yang menyadari gestur Lyra, akhirnya melepas jas yang melapisi T-shirtnya.
“Duduk saja,” dia merentangkan jasnya memberi isyarat pada Lyra untuk duduk kembali dan meletakkan jasnya di atas pangkuan gadis itu.
“Maaf,” ucap Lyra menahan malu.
“Mestinya kamu gak masuk gengnya Ariana.”
Lyra tersenyum tipis.
“Partynya bisa sampai pagi. Kamu yakin mau ngikuti Ari?”
Lyra melirik Mike. Dia memang tak pernah merasa cocok dengan gaya hidup Ariana dan teman-temannya. Tapi ia membutuhkan komunitas yang bisa membuatnya bertahan di dunia yang belum lama ditekuninya itu.
“Carilah komunitas lain kalau bisa,” pesan Mike. Dia mengecek smart watchnya kemudian berdiri. “Aku harus kerja.”
Lyra mengangguk. Dia hendak menarik jas yang dia gunakan, tapi Mike mencegahnya.
“Pakai saja dulu. Aku tinggal ke sana.”
Mike terlihat berbicara dengan Ariana sebelum dia bersiap naik ke atas panggung. Ariana menengok ke arah Lyra, berbicara sebentar dengan pasangan dance-nya kemudian mendekati Lyra bersama satu orang teman mereka Diara.
Ariana meminta minuman, kemudian meneguknya cepat. Begitu pula dengan Diara.
“Ayo deh, Ra, turun. Asyik kok. Sayang banget kalau lo gak turun,” kata Ari.
“Lo cuma pesen juice, Ra? Cobain nih,” Diara menempelkan gelasnya di bibir Lyra, dan membuat cairan itu membasahi bibir tipis Lyra.
“Jangan cupu,” Fidya ikut bergabung berbisik sinis pada Lyra. Ia meminta minuman dan menghabiskannya sekali teguk.
Lyra menengok kesal. Fidya memang paling provokatif diantara semuanya. Dia kerap bersikap sinis pada Lyra yang dianggapnya cupu dan tak sepatutnya ikut geng mereka.
“Cobain deh Ra,” Ariana menyodorkan satu gelas minuman dengan senyum manisnya.
Semua mata memandang Lyra, termasuk bartender yang berada di balik meja. Laki-laki itu memandang kasihan pada Lyra. Sekian lama bekerja di sana, dia bisa mengenali jenis-jenis orang yang datang ke klub malam. Dan Lyra memang tak sepatutnya ada di sana.
Kepalang malu, Lyra akhirnya mencecap gelas kecil yang disodorkan Ariana. Ekspresinya membuat si bartender maklum. Tapi keempat kawannya justru mentertawakannya.
“Habisin. Nanggung. Gak akan mabok lo, cuma dikit gitu,” Fidya kembali memprovokasi.
Lyra menggeleng. Bayangan ayah ibunya membuatnya merasa bersalah. Ini bukan kali pertama ia memasuki klub malam. Sebelumnya pun, ia sudah pernah berbohong pada orang tuanya, tapi tak pernah Lyra merasa sebersalah ini.
“Udah jangan paksa kalu memang dia gak mau,” ucap Riska yang merasa kasihan melihat temannya itu.
“Gak usah sok jadi pelindung,” sulut Fidya.
“Harus tetep ada yang waras di antara kita berlima, dan mungkin karena itu Lyra ada,” kata Riska.
“Biar gue yang gantikan Lyra,” bartender itu mengajukan diri setelah ia mendapat kode dari atas panggung sana.
Kelima perempuan muda itu menatapnya dengan pandangan berbeda.
“Tenang, gue gak akan masukin minuman ini ke bill kalian,” dia meneguknya perlahan.
Lyra mengucapkan terima kasih melalui sorot matanya.
“Gak asyik lo,” keempat teman Lyra berbalik kembali turun ke lantai dansa.
Lyra menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ingin rasanya ia menelpon ayahnya agar dijemput saja.
“Pergilah selagi bisa. Bawa ponsel kan?” nasehat bartender dengan nametag Niko itu.
Lyra mengangguk.
“Telepon keluargamu. Minta jemput segera. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”
Lyra mengernyit bingung. “Hal-hal yang tidak diinginkan apa?”
Niko terkekeh. “Kamu pasti gak kenal betul teman-temanmu. Mereka sering taruhan,” bisiknya pelan.
“Taruhan?”
“Nona Lyra, sudah ada beberapa orang sebelum kamu yang dijadikan bahan taruhan.”
“Taruhan apa?”
“Kamu akan dibuat mabok dan meracau hingga semua aibmu mereka dapatkan kemudian akan terikat pada mereka selamanya.”
Lyra menengok ke arah keempatnya. Rasanya sulit dipercaya mereka akan melakukan hal itu.
“Pergi. Dan berhati-hatilah.”
Lyra akhirnya bangkit. “Saya bisa minta air mineral?” pintanya sebelum pergi.
“Ambillah. Tak perlu bayar.”
“Tapi?”
“Sudah ada yang bayar,” Niko menunjuk ke arah panggung dengan dagunya. “Tinggalkan nomormu jika ingin mengucapkan terimakasih,” dia menyodorkan kertas kecil dan pena.
Lyra berpikir sejenak. Menengok ke arah panggung, kemudian menuliskan nomor ponselnya di kertas yang diberikan.
“Makasih, Kak.”
Niko tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya ada pengunjung yang memanggilnya kak. Dia menyimpan kertas itu di sakunya. “Hati-hati.”
Lyra mengangguk kemudian cepat-cepat keluar dari sana. Dia mengeluarkan ponselnya menghubungi orang tuanya.
“Mama, bisa minta tolong Papa buat jemput Lyra?” suaranya terdengar bergetar menahan tangis.
***