Sebelum Naka menerima Telepon. **** Lea tidak bisa menahan air mata. Gadis yang masih dipapah oleh seorang suster lantaran tubuhnya lemas itu terus menangis. Berdiri tak jauh dari sang ibu yang sedang diperiksa oleh dokter, Lea sesenggukan. Sesekali gadis itu mengusap kasar wajah yang hanya hitungan detik sudah kembali basah. Lea berusaha keras menahan isak tangisnya. Menatap sang ibu dengan air mata yang terus mengalir. “Kondisi pasien bagus. Kita bisa segera pindahkan pasien ke ruang rawat.” Sang dokter bicara tanpa mengalihkan perhatian dari sosok perempuan yang masih berbaring di atas ranjang. Selang oksigen belum dilepas. “Selamat datang kembali, Nyonya Nurul.” Dokter itu tersenyum. Lega melihat sang pasien akhirnya membuka kembali matanya. Nurul mengedip. Bola mata wanita itu

