Naka terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Zahra. Pria itu menarik pelan namun panjang napasnya. Salivanya terasa menggumpal dan keras hingga ia kesulitan hanya untuk menelannya saja. Apa ini saat yang tepat untuk memberitahu istrinya jika wanita itu sudah berbadan dua? Inikah waktunya? Apakah Zahra akan berteriak bahagia jika mendengar berita tersebut? “Sayang,” panggil Naka seraya memasukkan sebanyak mungkin oksigen dari lubang hidungnya. Menyiapkan hati untuk memberikan kabar yang baginya sangat membahagiakan. Dia sudah menahannya, takut sang istri justru akan sedih mengingat keadaan sang ibu yang masih belum ada kemajuan. “Tapi kalau aku pikir-pikir, Allah tahu yang terbaik untuk kita. Aku rasa saat ini aku juga belum siap untuk hamil. Maafkan aku. Bukan karena aku tidak mau, Ma

