"Oh ini, dia sektretaris baru di kantor. Ya paling ada pekerjaan yang dia tidak mengerti. Jadi ya, dia telepon aku untuk tanya-tanya," jawab Delvin sambil tersenyum senatural mungkin dan berusaha untuk terlihat tidak mencurigakan di depan istrinya ini.
"Oh... terus kenapa nggak diangkat?" tanya Gretha lagi.
"Angkat? Ya... aku kan sedang bersama kamu. Lagian, jam kerja sudah lewat. Jadi bukan waktunya membahas masalah pekerjaan di rumah. Aku benar 'kan?" ucap Delvin yang pintar sekali memutar balikkan fakta di depan istrinya yang sedang curiga.
Ponsel Delvin kembali berdering lagi dan Delvin pun menghela nafas, lantas me-reject panggilan tersebut lagi. Tapi Gretha dengan polosnya malah berkata.
"Ya udah, Mas. Angkat dulu aja. Kasihan kan dia. Pasti dia lagi bingung sekarang. Kamu kan ngerti kerjaan. Ya kamu kasih tahu dia," perintah Gretha.
"Iya ya? Sepertinya, aku juga mau sekalian memarahi dia, karena menelepon di luar dari jam kerja begini. Ya sudah. Aku keluar dulu ya? Nanti kamu terganggu kalau dengan suara teriakan aku." Delvin bangun dari tepi tempat tidur dan keluar dari dalam kamar. Dia pergi ke kamar lain yang letaknya dua pintu dari kamar sang istri dan mulai menjawab panggilan telepon yang lagi-lagi masuk ke ponselnya.
"Apa!? Apa!? Apa!? Ada apa dengan dirimu ini!? Kenapa meneleponku saat aku sedang berada di rumah!? Aku sudah peringatkan sebelumnya, 'kan? Jangan menghubungiku, saat aku sedang berada di rumah!" amuk Delvin kepada Gianna.
"Iya, Mas. Maaf. Tapi ini kran kamar mandinya bocor, Mas! Aku bingung minta tolong ke siapa. Gimana kalau apart-nya banjir!?" ucap Gianna panik.
"Oh ya ampun! Ya kamu bisa menelepon... ah sudahlah! Biar aku yang hubungi mereka! Matikan dulu teleponnya!"
Delvin mengakhiri panggilan teleponnya dengan Gianna dan menghubungi pihak apartemen untuk mengurus kerusakan yang ada di dalam kamar yang ia sewa.
"Iya. Lantai sepuluh unit 7 ya, Mas." Delvin berbicara di telepon.
"Baik, Pak. Akan segera kami cek ke sana."
Delvin akhiri panggilan teleponnya lagi dan kembali menghubungi Gianna.
"Sudah. Aku sudah melaporkannya kepada pihak apartemen. Sebentar lagi mereka ke sana dan memperbaiki kerannya," ujar Delvin.
"Iya, Mas. Makasih ya?"
"Iya. Tapi lain kali, jangan menelepon sembarangan seperti tadi. Kirimkan saja pesan. Nanti aku kirimkan juga nomor pihak apartemen, supaya kamu bisa langsung melakukan pengaduan sendiri."
"Iya, Mas. Ya udah."
Panggilan telepon berakhir dan Delvin pun segera mengusap kasar area mukanya sendiri.
"Macam-macam saja," gumam Delvin yang lantas kembali ke kamarnya lagi dan menemui serta menemani sang pujaan hati.
Di apartemen.
Gianna baru saja menutup pintu dan menuturkan rasa terima kasihnya kepada orang-orang yang sudah membantunya merapikan kekacauan di kamar mandi. Setelahnya, ia pun lanjut membersihkan diri dan duduk di atas sofa masih dengan handuk bermodel kimono warna putih yang melekat di tubuhnya.
Gianna sentuh perutnya yang tiba-tiba saja mengeluarkan suara. "Ah ya ampun. Lapar lagi. Habis main air malah jadi lapar," ujar Gianna bermonolog.
Gianna melihat ponselnya dan ada notifikasi yang masuk dengan nominal uang yang lumayan. Sudah seperti simpanan. Yang hanya didatangi saat ingin dan juga dikirimi uang dari jauh. Ya tapi, ia ini adalah seorang istri juga. Biarpun hal itu terasa seperti ia yang hanya sedang menghibur dirinya sendiri saja.
Gianna membuka aplikasi untuk memesan makanan. Tetapi, dia lalu terpaku dan berpikir-pikir dulu. Apa tidak bosan hanya berada di apartemen? Sudah cukup beberapa hari kemarin ia melakukannya. Hanya diam di tempat tidur dan menunggu makanan datang. Sudah persis sekali dengan peliharaan.
Sepertinya, sudah waktunya ia menghirup udara bebas. Jangan hanya bolak-balik apartemen dan kantor. Tetapi, ia harus mencoba berkeliling juga di sekitaran sini. Ya sekalian mencari makanan.
Gianna bangun dari sofa dan pergi ke lemari pakaian. Dia ambil satu setel pakaian dan mengenakannya. Setelah itu, dia ambil tas kecil yang selalu ia bawa ketika berpergian dan masukkan ponselnya ke dalam sana.
"Hhh... waktunya healing!" seru Gianna seraya mengangkat kedua tangannya dan berjalan keluar dari kamar apartemennya ini.
Gianna menggunakan lift dan turun ke lantai bawah. Lantas ia keluar dari gedung apartemen itu dan mencari-cari serta mencoba makanan yang ada di luar.
Dia tengok kanan dan kiri dan ketika akan menyebrang sebuah mobil malah nyaris menyerempet dirinya dan seseorang yang berada di dalam mobil itupun keluar untuk mengecek keadaan Gianna yang sempat tersungkur karena kaget.
"Mbak? Mbak nggak apa-apa kan? Maaf. Maafkan saya nggak sengaja. Apa ada yang luka?" tanya seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahunan dan memakai seragam berwarna hitam, seperti seorang supir dan memang iya, dia adalah seorang supir dari lelaki yang baru saja keluar dari dalam mobil dan main angkat tubuh Gianna lalu membawanya masuk ke dalam mobil tersebut.
"Lho? Saya mau dibawa kemana?" ucap Gianna kebingungan ketika sudah berada di dalam mobil.
"Ke rumah sakit," jawab lelaki yang kini bicara pada orang yang ada di kursi kemudi.
"Ayo jalan! Kita periksa keadaannya!" cetus pria tersebut dan Gianna pun langsung membuka kelopak matanya itu lebar-lebar.
Ketika mobil sudah melaju lumayan jauh. Gianna memberanikan diri untuk berbicara, dengan orang yang ia kira hendak menculik dirinya.
"Pak, Mas, Om atau apapun itu. Boleh turunkan saya di sini? Saya nggak punya apa-apa. Saya juga bukan anak orang kaya. Hutang saya aja banyak. Jadi percuma mau culik saya. Nggak ada juga yang bakalan tebus saya."
"Jadi kamu berpikir, bila saya ini adalah seorang penculik?" ucap lelaki itu yang menoleh sehingga Gianna bisa menatap wajahnya dengan jelas. Dari garis wajahnya, pria ini seperti baru berusia tiga puluh tahunan dan perawakannya bahkan mirip-mirip dengan suami sirinya itu.
"Eum... Ya abisnya, saya tiba-tiba banget dibawa masuk ke dalam mobil begini. Tapi yang tadi itu serius. Saya bukan anak orang kaya. Ini tas harganya murah. Cuma seratus ribuan. Saya nggak punya barang bermerek sama sekali."
Gianna melihat laki-laki yang duduk di sisinya ini menahan senyum dan kemudian menatap tubuhnya dari atas hingga ke bawah. Sedangkan Gianna sekarang jadi berpikir, apa jangan-jangan organnya mau diambil, makanya ia dibawa ke rumah sakit?
Gianna terbelalak. Dia mencengkeram pintu mobil yang ada di sebelahnya lalu mendorong serta menarik pintunya dengan panik.
"Pak! Mas! Organ saya bermasalah! Jadi jangan ambil organ saya! Ambil yang lain tapi tolong jangan organ saya yang diambil!" pekik Gianna dan pria di sampingnya kini menundukkan kepala tapi dengan punggung yang bergetar dan dengan kepalan tangan yang ditempelkan di ujung bibirnya. Sedangkan Gianna yang sedang cemas itu malah kebingungan dengan sikap dari pria asing di sebelahnya ini.
"Astaga. Kamu begitu paranoid. Apa aku terlihat seperti seorang penjahat hm?" Pria itu mengangkat wajahnya dan senyumnya bahkan membuat pria yang sedang berada di kursi kemudi, menoleh ke kaca yang ada di atas kepalanya. Aneh tapi nyata pikirnya. Laki-laki yang biasanya dingin ini, malah tersenyum lepas di hadapan seorang wanita asing.
"Ya nggak. Tapi, biasanya orang jahat zaman sekarang dandannya rapi," celetuk Gianna pelan sambil dia menggigit bibir bawahnya sendiri.
Pria di sampingnya benar-benar tidak bisa menahan tawa. Dia terbahak bahkan hingga supirnya tidak hanya melihat dari kaca yang ada di atas dashboard mobil saja. Melainkan sampai memutar kepalanya ke arah belakang sekilas.
"Kamu ini lucu juga ya?" ucap orang itu kepada Gianna yang malah kelihatan bingung ini.
"Oh iya, perkenalkan, nama saya Sakha." Tangannya terulur kepada Gianna yang masih belum yakin mau ia sambut atau tidak uluran tangannya. Hingga akhirnya pria ini menarik kembali tangannya dan mengeluarkan sebuah kartu nama yang ia berikan sebagai awal perkenalan mereka.
Gianna menarik selembar kartu itu dengan ragu dan lantas membaca tulisan di permukaan kartunya.
"Arsakha Mahardika. General Manager?" ucap Gianna yang kemudian melirik Sakha sambil dengan tersenyum malu.
"Jadi, apa aku terlihat ingin mengambil organ tubuh kamu hm?" Alis pria ini terangkat satu, dia seolah ingin menjelaskan segalanya tanpa harus banyak bicara.
"Maaf. Saya pikir tadi orang jahat. Eh maksudnya, orang... eum... ya begitulah." Gianna menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya sendiri dan Sakha pun hanya tersenyum tipis, sambil menatap wanita yang kelihatan sangat polos ini.
Sementara itu, Delvin yang ingin mengecek keadaan secara langsung itupun menyempatkan diri untuk datang ke apartemen. Tentunya, setelah sang istri meminum obat dan terlelap. Hanya melihat-lihat sebentar saja dan rencananya akan segera kembali ke rumah setelah melaksanakan pengecekan.
Pintu apartemennya ini ia buka dengan menekan kode akses. Kemudian Delvin buka pintunya dan melangkah masuk ke dalam apartemen tersebut.
"Gianna!" panggil Delvin sembari matanya jelalatan kesana kemari dia mencari-cari keberadaan wanita yang ia panggil namanya tadi.
"Hei, Gianna! Kamu ada dimana!" seru Delvin saat sudah menjelajahi setiap sudut dan tetap tidak menemukan Gianna di dalam sana.