Entah sudah berapa kali Kikan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan berat. Ia sedang berada di sebuah bus. Kikan pilih tidak mengendarai mobil karena takut tidak konsentrasi. Jujur, walau ia berusaha berani tetap ada perasaan takut bertemu dengan mantan suaminya lagi. Terutama mengingat sikap kasar Hanan padanya dulu. Oma tadi mencegah Kikan untuk pergi sendiri, Kikan sampai menegaskan pada Oma. “Oma, jangan coba-coba menelepon dokter Halim.” “Hanya untuk temani kamu saja, memastikan Hanan tidak berani menyakiti kamu.” Kepala Kikan menggeleng dengan tegas, “tidak perlu Oma, jika Ka Hanan berani melakukannya, Kikan tidak akan tinggal diam. Kikan akan melawan.” Ia meyakinkan Oma. Kemudian memeluk wanita tua itu. Oma membalas dengan mengusap punggungnya. “Jangan lama

