Akhirnya para ilmuwan itu sampai di tempat camp tepat tengah malam. Deru mesin kendaraan mereda satu per satu, berganti dengan suara angin laut yang menyusup di sela tenda. Lampu-lampu sorot menyala redup, cukup untuk menerangi jalur tanah yang masih basah. Kalandra turun dari mobil taktis yang terpisah dari rombongan ilmuwan, langkahnya mantap, wajahnya tenang dan lelah tertahan di balik disiplin. Harusnya ia memberikan koordinasi tadi di perjalanan, tapi malas satu mobil dengan para ilmuan yang terlambat itu walaupun alasannya karena salah satu anggota sakit. Tetap saja. Seorang pria berusia lima puluhan dengan jaket lapangan dan map tebal menunggu di dekat pos briefing. Rambutnya mulai memutih, matanya tajam namun ramah. Itulah pimpinannya. “Pak Djono,” sapa Kalandra sambil menganggu

