. Kesadaran Anaya muncul perlahan, masih setengah tertidur, sampai sebuah suara dari arah walk-in closet membuat matanya terbuka sepenuhnya. Bukan suara keras sebenarnya, hanya bunyi logam kecil yang beradu, seperti seseorang yang menjatuhkan sesuatu ke lantai lalu segera mengambilnya kembali. Namun di kamar yang masih gelap dan sunyi, suara itu terasa cukup jelas. Anaya mengedipkan mata beberapa kali. Tangannya refleks meraba sisi ranjang. Kosong. Ia langsung duduk perlahan, rambutnya sedikit berantakan karena tidur yang tidak benar-benar nyenyak malam tadi. “Mas Gabriel?” gumamnya pelan. Tidak ada jawaban dari kamar utama, tetapi suara langkah kecil terdengar lagi dari walk-in closet. Anaya turun dari ranjang dengan langkah hati-hati, lalu berjalan ke arah pintu lemari besar itu.

