Sebenarnya Anaya masih linglung. Bahkan setelah tangisnya pecah habis-habisan di basement tadi, setelah Gabriel memeluknya erat dan membawanya naik ke penthouse seperti membawa sesuatu yang rapuh sekaligus berharga, pikirannya masih seperti kapas basah yang tidak bisa diperas habis. Ada terlalu banyak hal yang datang bersamaan di dalam kepalanya. Tentang neneknya. Tentang Sumanta. Tentang kata-kata yang terlalu kejam untuk diingat, tetapi justru paling sulit dilupakan. Dan di atas semua itu, ada satu hal yang terus berputar paling keras, paling membingungkan, paling membuat dadanya berdebar dengan cara yang tidak nyaman sekaligus manis. Gabriel tahu. Bukan hanya tahu, tetapi tetap berdiri di sisinya. Tetap memeluknya. Tetap berkata bahwa ia tidak peduli dari siapa Anaya lahir. Tetap ber

