“Kalau demamnya tidak turun-turun, lebih baik dibawa ke rumah sakit saja, Non.” Suara Bibi Nida terdengar khawatir ketika Marsha baru saja masuk ke rumah dari halaman depan. Di tangannya ada kantong belanja dari pasar kecil dekat kompleks membeli udang segar, jahe, sedikit daun bawang, dan beberapa bahan lain yang tadi sengaja ia pilih sendiri. Malam sudah cukup larut. Lampu dapur menyala hangat, sementara seluruh rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Marsha menutup pintu pelan agar tidak menimbulkan suara keras. “Tidak perlu dulu, Bi,” jawabnya sambil membuka sandal. “Sebentar lagi Kak Kinar datang. Dia kan dokter, sekalian saja dia yang periksa.” Bibi Nida mengangguk pelan, walau raut wajahnya masih menyimpan sedikit cemas. “Tadi sempat turun sedikit setelah minum obat, tapi naik l

