Tanah Leluhur

3454 Kata

“Gak sia-sia dikasih rasa sakit dulu… sekarang bertubi-tubi bahagianya,” gumam Anaya pelan, nyaris seperti doa yang keluar tanpa sadar. Ia masih berbaring, matanya terbuka menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan detail ukiran klasik berwarna putih gading. Cahaya pagi masuk dari sela tirai, lembut, menyentuh sudut-sudut ruangan dengan hangat yang tidak menyilaukan. Udara Belanda terasa berbeda, lebih dingin, lebih bersih, dan entah kenapa… lebih tenang. Anaya sudah bangun sejak beberapa waktu lalu, tapi ia tidak langsung bergerak. Tubuhnya masih malas, pikirannya terlalu penuh oleh hal-hal yang datang sekaligus. Ia menghela napas panjang, lalu mengusap perutnya perlahan, jari-jarinya bergerak lembut seolah sedang menenangkan sesuatu di dalam sana. “Kita ini… hidupnya berubah ya…”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN