“Mas, aku masih pengen lihat keadaan di sana. Kan aku udah baik-baik aja,” bujuk Anaya. Mereka berada di bangunan liaison sementara dekat zona keberangkatan menuju Mesir, sebuah fasilitas militer kecil yang menjadi titik koordinasi evakuasi dan rotasi personel. Dari luar terdengar suara rotor helikopter sesekali, kendaraan taktis lalu-lalang, dan komunikasi radio yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di dalam ruangan itu, Gabriel sedang bersiap. Seragam lapangan sudah separuh terpasang. Rompi balistik terbuka di meja. Sarung tangan taktis terlipat rapi. Ia bergerak cepat, efisien, tanpa membuang gerakan. “Saya sudah katakan, kamu tetap di sini,” jawabnya tanpa menoleh. Anaya berdiri di belakangnya, masih mengenakan pakaian medis bersih yang baru diganti. Pelipisnya sudah hanya menyis

