“Salim dulu, Pa.” Plak ... “Awww, sakit!” teriak Arsya dengan mengelus pipinya. “Sana pergi,” usir Ihsan. “Iya, iya. Perasaan kita sesama tamu. Kenapa kamu malah berasa jadi tuan rumah?” “Aku adalah menantu keluarga Rachman. Jika, kamu lupa dengan senang hati aku mengingatkan lagi,” ujar Ihsan. “Baru calon jika kamu lupa,” saut Arsya tak mau kalah. Ihsan mendorong tubuh sepupunya agar segera masuk kedalam mobil. Semakin lama pria itu berada di rumah Indira akan membuatnya pusing tujuh keliling. “Aku serius soal Safira.” “Kamu pikir aku tidak serius menolakmu!” “Papa ...” “Diam!” seru Ihsan. “Jangan memanggilku seperti itu!” Arsya terbahak melihat ekspresi geli sepupunya saat dia memanggil dengan sebutan ‘Papa’. Dia sengaja mengubah panggilan sebagai salah satu usaha agar dapat

