Mendapatkan hukuman dari sang kekasih membuat Arsya galau merana dan juga kesepian. Hari-harinya suram karena tidak bisa melihat wajah cantik dan mendengar suara lembut Safira. Arsya yang tidak bisa berjauhan dengan kekasihnya memutuskan pindah ke rumah si biang kerok. Dia ingin sepupu premannya bertanggung jawab atas ulah yang telah dibuatnya. Bujang original Jakarta itu mengirim dua koper besar berisi barang-barang pribadinya ke rumah Titania. Tak hanya itu saja, Arsya juga meminta Bibik yang bekerja di rumahnya untuk menata semua barangnya di kamar tamu yang akan ditempati. Bagaimana tanggapan si empunya rumah? Pastinya, meledak-ledak seperti petasan banting. “Ngapain Om Arsya pindah ke rumahku?!” “Aku kesepian di rumah.” “Kenapa nggak ke rumah Eyang Mami?” “Lagi ke Jogja.” “Pok

