Sempat bengong saking malu tersungkur di depan papa Nay dan keluarga besarnya, Daren kemudian meringis berusaha bangun. Namun, sepatu sialan itu membuatnya kesulitan berdiri. Belum lagi sayap di punggungnya yang terus melorot makin menambah ribet. Daripada makin mati gaya ditatap sengit calon mertuanya, Daren kemudian melepas sepatu berhak tinggi itu dan menentengnya. Sambil meringis menahan ngilu di kakinya, dia berdiri dan melangkah terseok kembali ke barisan belakang di samping Nay. Mereka menunduk menahan geli. Coba kalau tidak sedang jadi pusat perhatian, pasti sudah ngakak guling-guling melihat betapa ngenes nasib Daren yang lagi-lagi jadi korban kebringasan Barbar “Pulang mandi kembang buat buang sial!” olok Cello cengengesan. “Bebek sialan! Lihat saja kalau nemu kesempatan, aku

