Lega, itulah yang Shera rasakan setelah memutuskan untuk berdamai dengan papanya. Seperti ada beban berat yang terangkat dari bahunya. Sekarang hidupnya terasa ringan. Bahagianya juga sempurna, karena hari ini dia bukan cuma memulai rumah tangganya bersama Liam, tapi juga membuka lembar baru dengan papa juga kakaknya. Riasan untuk pesta resepsi sudah nyaris sempurna. Tinggal merapikan tatanan rambut dan memasang tiara. Mata Shera menatap bayangannya di cermin. Puas, tentu saja. Dari kebaya modern yang dikenakannya saat ijab kabul tadi, hingga gaun pengantin yang sekarang melekat sempurna di tubuhnya, dia dibuat berdecak kagum akan tangan dingin Keyra dan mamanya. “Dih, cantik banget! Pantesan Bang Liam sampai klepek-klepek,” puji Nay yang duduk di sana bersama bridesmaid lainnya. “Apal

