Saudara, Tapi Tidak Keluarga.

1045 Kata

Malam itu, ruang makan keluarga Abimana sunyi. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya temaram ke piring-piring porselen yang belum disentuh, menciptakan bayangan panjang di lantai kayu berlapis karpet mewah. Denting sendok dan garpu terdengar samar, setiap bunyi seolah diperbesar oleh keheningan yang tegang. Kamelia duduk di ujung kiri meja, tubuhnya tegap, wajahnya menampilkan senyum tipis yang berusaha menutupi rasa tegang. Di sampingnya, Aksa diam, matanya sayu, pundaknya sedikit membungkuk—tanda kelelahan yang bukan hanya fisik, tapi juga emosional. Di seberangnya, dua lelaki itu duduk saling membisu. Ferdy dan Jafran. Jarak di antara mereka seakan tak bisa dijembatani, meski hanya beberapa meter. Keduanya menatap piringnya, tapi aura di antara mereka terasa seperti medan perang ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN