Tok. Tok. “Masuk, Fer,” jawab suara lembut dari dalam. Ferdy mendorong pintu, masuk dengan langkah pelan. Kamelia tengah merapikan selimut di ranjangnya. Usianya terlihat di garis-garis halus wajah, tapi sorot matanya tetap menyimpan keteduhan yang sama seperti saat Ferdy pertama kali sadar di rumah sakit, beberapa bulan lalu—momen ketika dunia Ferdy terbalik, saat ia tahu dirinya adalah darah Abimana. “Ada yang penting, Nak?” tanya Kamelia sambil tersenyum samar. Ferdy terdiam sejenak. Lalu, dengan gerakan hati-hati, ia menyerahkan map bening itu. “Bu … aku minta tolong bantu urus ini.” Kamelia menerima map itu. Alisnya mengernyit, ia membuka perlahan, membaca cepat lembar pertama. Wajahnya berubah kaku. “Surat cerai?” suaranya bergetar. Ferdy mengangguk. “Aku gak mau terus-terusan

