Gina menelan getir. "Si tukang itu sekarang jadi pangeran," katanya pada bayangan di kaca. "Dan aku? Aku nyaris nggak punya apa-apa." Ia berjalan ke meja kecil, meletakkan gelas, lalu meraih ponselnya. Sudah berhari-hari ia memutar skenario dalam kepala: bagaimana cara masuk lagi ke lingkaran itu. Menyusup, bukan sebagai Gina yang gagal, tapi sebagai Gina yang kembali punya nilai. Ia tahu, pintu ke Ferdy dan keluarga Abimana tidak mudah ditembus. Tapi tidak ada pintu yang benar-benar terkunci, asal tahu di mana celahnya. *** Senja baru saja runtuh di cakrawala ketika Ferdy pulang dari proyek milik Jayden. Jakarta sore itu seperti biasa: bising, penuh klakson, dan berdebu. Namun bagi Ferdy, keributan luar tak seberapa dibanding ributnya batin yang setiap hari ia pikul. Tubuhnya lengket o

