Pintu kayu besar dengan ukiran klasik dibuka. Di balik meja kerja, seorang pria paruh baya berdiri. Rambutnya sudah memutih di pelipis, kacamata tipis bertengger di hidungnya, jas hitamnya terlihat rapi. “Bu Kamelia,” sapa Hendra sambil berjalan cepat menyambut. Ia mengulurkan tangan. “Kenapa repot-repot datang ke sini, Bu? Kalau Ibu bilang saja lewat telepon, saya pasti langsung ke rumah.” Kamelia menjabat tangan itu singkat lalu melepaskan, duduk dengan tenang di kursi berlapis kulit. Ia meletakkan map biru di atas meja. “Saya memang sengaja datang, Hen,” ujarnya tegas. “Saya ingin urusan ini selesai secepat mungkin. Tidak ada alasan untuk menunda. Saya tidak mau ada lagi masalah berkepanjangan antara Ferdy dan Gina.” Hendra menarik napas, lalu duduk di seberang. “Baik, Bu. Tapi bias

