Ferdy bersandar pelan ke jok, menghela napas. “Saya gak nolak kerja, Pak. Tapi saya gak mau orang kira saya dapat posisi itu cuma karena saya anak Bapak.” Aksa akhirnya menoleh, menatap Ferdy tajam. “Kamu pikir saya menawarkannya karena kamu darah saya?” Ferdy tersenyum kecut. “Saya gak tahu. Tapi saya gak mau hidup saya dikira enak karena nama belakang yang baru nempel. Selama ini saya kerja keras bukan buat itu.” Aksa mempelajari wajah putranya. Ada kejujuran yang sulit ditawar. Wajah itu keras ditempa kerja kasar bertahun-tahun, tapi hatinya jujur, lurus. Keheningan kembali turun. Lalu Aksa berkata perlahan, “Baiklah. Jadi itu alasan kamu memilih bekerja dengan Jayden, bukan dengan saya.” Ferdy sempat kaget, lalu menunduk. “Bapak sudah tahu?” “Baru kemarin,” jawab Aksa, nadanya da

