Hujan turun ringan sejak pagi, menyelimuti area proyek dengan aroma tanah basah yang khas. Tetes-tetesnya menimpa seng biru yang dipasang sebagai pembatas, menimbulkan irama ritmis yang tak henti. Genangan tipis terbentuk di jalanan proyek, membuat tanah becek dan menempel di sepatu para pekerja. Di tengah hiruk-pikuk suara mesin molen yang terus berputar, Ferdy melangkah mantap. Sepatu boot hitamnya sudah basah oleh lumpur, tapi ia sama sekali tak mengeluh. Jaket kerjanya lusuh, helm tua masih setia menempel di kepala. Buku catatan kecil terjepit di lengannya, pena terselip di telinga. Semua detail ia amati—dari kualitas campuran semen hingga cara tukang mengaduk adukan. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara para pekerja menatapnya kini. Bukan lagi sekadar rekan kerja atau sesama tukang.

