Ia melangkah kembali ke kamar, langkahnya ringan tapi suara lantainya bergema di ruangan yang tinggi dan mewah. Lemari kayu jati berukir halus, tempat tidur besar dengan kasur empuk dan sprei seputih salju, lukisan klasik di dinding, lampu gantung kaca menggantung megah dari langit-langit tinggi—semua itu menuntut perhatian. Ferdy menatap sekeliling seolah mencari sesuatu yang familiar, tapi tak ada yang bisa ditemukannya. Dengan tangan gemetar, ia membuka lemari, menarik laci satu per satu. Di dalamnya tersusun rapi pakaian mahal, jam tangan baru, parfum dengan aroma berat yang asing bagi inderanya, bahkan sepatu bersol kulit halus yang tampak tak pernah dipakai. Semua hadiah dari Kamelia, semua untuk membuatnya nyaman. Tapi hatinya tetap kosong, hampa. Ferdy mengangkat kaus putih polos

