Kamar rumah sakit itu sunyi. Hanya suara mesin infus yang berdetak pelan, seperti jarum jam yang menghitung detik-detik antara luka dan pengampunan. Mata Ferdy masih tampak kosong menatap langit-langit, tubuhnya terbungkus selimut hangat, tapi ada yang dingin yang membeku di dadanya. Ia belum tahu apa-apa. Hanya bahwa hidupnya kembali terasa aneh. Dunia yang sempat ia kenal seperti terbelah dua—antara masa lalu yang buram dan masa kini yang tidak masuk akal. Wanita itu ... dia hadir setiap hari. Membawakan bubur hangat, menyelimutinya saat ia tertidur, mengelus rambutnya perlahan seperti seseorang yang sangat mengenalnya. Tapi tak sekalipun wanita itu memaksanya bicara. Tak pernah bertanya. Tak menuntut apa pun. Hanya menatapnya dengan mata yang ... seakan tahu segalanya. Tatapan itu bu

