Pagi di rumah keluarga Abimana disambut cahaya lembut yang menyelinap lewat celah-celah tirai putih panjang. Tirai itu bergoyang sedikit oleh hembusan angin dari jendela besar, membuat sinar matahari yang masuk seolah menari di atas meja makan panjang dari kayu mahoni. Aroma bubur ayam hangat, ditambah teh melati yang mengepul di teko porselen, menyebar ke seluruh ruangan. Normalnya, itu cukup membuat pagi terasa nyaman. Tapi hari itu, suasana meja makan dingin. Hening yang terasa berat, bukan hening yang menenangkan. Kamelia duduk di ujung meja. Rambutnya tersanggul rapi, wajahnya sudah dipoles tipis make-up meski masih pagi. Ia mencoba tersenyum, menyembunyikan gumpalan rasa takut yang menekan dadanya. Tangannya menyendokkan bubur ke mangkuk di depan Ferdy, gerakannya pelan, penuh keha

