“Tapi Uncle … sekarang nggak perlu lagi jadi tukang. Kalau butuh uang, aku bisa bantu dengan cara lain. Aku bisa kasih modal usaha. Atau kalau Uncle mau, aku bisa atur posisi di perusahaan.” Ferdy tersenyum tipis, getir. “Kalau kamu kasih aku posisi di kantor, apa orang lain nggak akan bilang itu cuma karena aku pamannya? Mereka akan bilang aku dapat jabatan karena koneksi, bukan karena layak. Aku nggak mau itu, Jay. Aku nggak mau hidup dari kasihan. Aku ingin kamu lihat aku bukan sebagai Uncle-mu. Lihat aku cuma sebagai kenalan. Sebagai seorang pria yang butuh kerja dan siap ngasih tenaganya buat sesuatu yang nyata.” Kata-kata itu membuat Jayden menghela napas berat. Ada rasa hormat tiba-tiba muncul dalam dirinya. Di balik kesederhanaan dan kekerasan hidup yang ditempa Ferdy, ada kebang

