Gina duduk di balik kemudi mobil sewaan yang ia parkir beberapa meter dari gerbang rumah besar keluarga Abimana. Mobil itu tidak mencolok, sedan tua berwarna abu-abu yang nyaris menyatu dengan deretan kendaraan para penghuni kawasan elit tersebut. Tangan kanannya menggenggam stir erat-erat, sementara jari-jarinya sesekali mengetuk-ngetuk tak sabar. Matanya tak pernah lepas dari siluet bangunan megah di kejauhan. Rumah itu—bercat putih dengan pagar besi tempa hitam yang menjulang kokoh—terlihat seperti istana dalam buku cerita. Pilar-pilar tinggi menopang balkon di lantai dua, jendela-jendela kaca besar memantulkan cahaya sore, dan halaman luas dengan taman rapi yang penuh bunga membuat tempat itu terlihat terlalu indah untuk nyata. Bagi Gina, rumah itu bukan sekadar rumah. Itu simbol. Si

