Hujan malam itu turun deras, seolah langit memuntahkan seluruh keluh kesahnya. Suara rintiknya keras, memukul genteng, tanah, dan dedaunan, berpadu dengan gelegar petir yang sesekali membelah gelap. Udara malam menjadi lembap, dingin menusuk kulit. Aroma tanah basah menyeruak, menambah muramnya suasana. Taman belakang rumah keluarga Abimana tampak seperti panggung sunyi yang diselimuti tirai air. Lampu taman yang kekuningan menciptakan bayangan buram di antara ranting basah. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun bagi Ferdy, jam seakan berhenti berdetak. Ia duduk di bangku besi taman, mengenakan jaket lusuhnya—jaket yang dulu selalu ia pakai ketika masih menjadi kuli bangunan. Jaket itu penuh noda semen, bercak cat, dan benang yang mulai terurai. Jaket yang tidak pantas bera

