Satu hari sudah berlalu sejak Gina nekat datang ke proyek, berdiri di antara kerikil, semen, dan tatapan para pekerja. Ferdy pikir itu akhir—sekadar kemunculan singkat dari masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam. Tapi ternyata, hari itu hanyalah prolog. Karena badai yang sebenarnya baru datang sekarang. Bukan badai angin, bukan badai hujan, melainkan badai yang lahir dari suara tinggi, air mata, dan ego yang terbakar. *** Pagi hari di lokasi proyek, Matahari pagi baru saja menanjak, menyinari lokasi proyek yang berdebu. Suara mesin molen berputar monoton, bercampur dengan dentuman palu dan panggilan tukang. Udara dipenuhi aroma semen basah yang menusuk hidung. Di tengah hiruk pikuk itu, Ferdy berdiri tegak dengan helm proyek di kepala, clipboard di tangan. Ia bukan sekadar pengawa

