Aksa dalam Penyesalan.

1243 Kata

Langit siang itu pucat. Awan mendung menggantung berat, seakan menekan d**a setiap orang yang berdiri di bawahnya. Di pekarangan pemakaman keluarga Abimana, udara dingin bercampur aroma tanah basah yang baru disiram gerimis. Di tengah suasana itu, seorang lelaki tua berdiri. Langkahnya pelan, tertatih, namun setiap gerakan masih memancarkan wibawa yang tidak pernah hilang. Rambut peraknya basah oleh gerimis tipis. Sebatang tongkat kayu di tangan kanannya menjadi penopang tubuh renta yang sudah melewati puluhan badai kehidupan. Tapi jiwanya—keras kepala, penuh gengsi, dan sering kali lebih bebal daripada batu nisan yang berjajar di sekelilingnya. Aksa berhenti di depan sebuah pusara. Batu nisan sederhana berdiri, dihiasi lumut tipis di sisi bawahnya. Tulisan yang mulai memudar masih terba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN