Gedung utama Grup Abimana berdiri angkuh di tengah pusat kota. Dinding kacanya berkilau memantulkan matahari, seakan ingin menunjukkan kepada dunia: inilah kerajaan bisnis yang tak tergoyahkan. Namun di lantai 20, tepatnya di ruang rapat eksekutif, hawa yang terasa bukanlah kebanggaan, melainkan kegelisahan yang menyesakkan d**a. Meja oval panjang dipenuhi para manajer. Layar proyektor masih menyala, menampilkan grafik naik-turun laporan keuangan. Tapi tak seorang pun benar-benar berani menatap grafik itu, karena semua pandangan terus melirik ke arah kursi di ujung meja: kursi CEO. Jafran Abimana duduk di sana, jas hitamnya rapi, dasi biru tua menempel ketat di leher. Dari luar, ia tampak seperti sosok pemimpin muda yang percaya diri. Namun sorot matanya kosong. Pandangannya tertuju ke l

