Ferdy Yang Berbeda.

1040 Kata

Panas matahari siang itu benar-benar menyengat. Udara Jakarta yang berdebu seolah menempel di kulit, bercampur dengan aroma semen basah dan suara mesin molen yang berputar tanpa henti. Namun di antara hiruk-pikuk pembangunan rumah susun untuk warga berpenghasilan rendah, sosok Ferdy tampak berbeda. Bukan karena ia anak orang kaya. Bukan pula karena ia kini diketahui sebagai putra sulung keluarga Abimana—nama besar yang sudah berakar puluhan tahun di dunia bisnis. Justru, Ferdy terlihat menyatu dengan para pekerja kasar, seolah ia bagian dari mereka. Kaos oblongnya basah oleh keringat. Celana kerjanya lusuh penuh bercak semen. Tangannya kasar dan tergores-gores, tanda ia tidak hanya berdiri mengawasi, melainkan ikut mengangkat, mengaduk, dan memasang. “Pak Ferdy, hati-hati, berat itu!” s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN