Sore itu langit tampak muram, awan kelabu menggantung rendah seakan menekan kota dari atas. Di pelataran luar sebuah gedung komunitas sederhana, bendera-bendera kecil yang dipasang panitia acara bergoyang diterpa angin. Aroma tanah basah mulai tercium, tanda hujan sebentar lagi turun. Di dalam gedung, suasana baru saja riuh. Ferdy, dengan suara yang sederhana tapi penuh ketulusan, baru saja menutup acara bertajuk “Bangkit dari Nol: Suara Mereka yang Tak Terlihat.” Para hadirin—mulai dari pelajar, tukang bangunan, ibu rumah tangga, hingga beberapa aktivis komunitas—memberi tepuk tangan panjang. Ada haru yang nyata. Bagi banyak orang, Ferdy bukan sekadar pembicara. Ia adalah bukti hidup bahwa keterpurukan bisa dilawan. Bahwa seseorang bisa jatuh sedalam-dalamnya, tapi tetap punya pilihan u

