Sarapan yang Dingin.

1338 Kata

Ruang makan keluarga Abimana pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Meja panjang dari kayu jati mengilap dengan taplak putih rapi, piring porselen berjejer sempurna, dan aroma kopi hitam yang baru diseduh memenuhi udara. Namun bukannya menciptakan kenyamanan, semua itu justru menambah kesan kaku. Denting sendok yang sesekali menyentuh cangkir terdengar lebih nyaring daripada biasanya—seakan menegaskan keheningan yang menyelimuti. Ferdy duduk di ujung meja, kursi kayu yang dipahat indah seakan terlalu besar untuk tubuhnya yang sedikit kurus. Kemeja putih longgar membungkusnya seadanya, rambutnya masih basah karena baru mandi. Ia menghirup napas dalam-dalam, mencoba mengusir kantuk setelah semalaman terjaga di kamar barunya yang terlalu besar, terlalu wangi, terlalu asing. Di sisi lai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN