Pagi itu, sinar matahari menembus awan tipis yang masih menggantung di langit kota pinggiran. Udara lembap namun segar, membawa aroma tanah basah dan kayu yang baru dipotong. Ferdy berdiri di depan Rumah Kedua, menyambut anak-anak pelatihan yang mulai berdatangan satu per satu. Anak-anak itu datang dengan wajah penasaran, beberapa masih malu-malu, beberapa bersemangat seperti burung-burung yang baru saja lepas dari sarang. Mereka bukan anak-anak kaya atau dari latar belakang nyaman. Banyak yang pernah kehilangan arah, pernah tersesat, pernah merasa dunia tidak memberi mereka kesempatan. “Selamat pagi, Bang Ferdy!” seru Panji, bocah yang paling bersemangat, sambil melambai dengan tas berisi alat tulis dan buku catatan. Ferdy tersenyum hangat. “Pagi, Panji. Siap belajar hari ini?” Bocah

