Tertunda (Lagi)

2804 Kata

Nadira memejamkan mata lebih lama dari biasanya. Bibirnya mendesis pelan, lalu matanya terbuka dengan ekspresi campur aduk antara tegang dan malu. "Kamu mau ngapain?" tanyanya cepat, nyaris refleks, ketika Bian menyusulnya naik ke tempat tidur setelah selesai mandi. Padahal Nadira tahu persis jawabannya. Ini malam pertama mereka sebagai suami istri. Tidak ada lagi status abu-abu, tidak ada lagi batasan yang dulu selalu mereka jaga. Tapi justru karena itulah, jantung Nadira berdetak lebih kencang dari biasanya. Bian berhenti bergerak sejenak. Ia berdiri di sisi ranjang, masih mengenakan kaus putih dan celana pendek, rambutnya sedikit basah, wajahnya santai terlalu santai untuk seseorang yang sedang ditanyai dengan nada setegang itu. Ia menatap Nadira, lalu tersenyum simpul. Tatapan m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN