Kalau Memang Jodoh ...

3718 Kata

Begitu pintu rumah tertutup kembali setelah Bian pergi, suasana rumah itu mendadak seperti diselimuti kabut tipis, sunyi, berat, dan manyisakan bekas ketegangan yang sulit dijelaskan. Mama Nenny dan Papa Ary masuk ke kamar mereka dalam diam. Biasanya, setelah ada tamu besar, mereka akan berbincang sambil tersenyum, menganalisis hal-hal kecil dengan ringan. Tapi kali ini … keduanya masuk ke kamar dengan langkah lambat, penuh beban. Mama Nenny duduk di tepi ranjang, sementara Papa Ary berdiri di depan jendela, menatap pohon rambutan kecil di halaman yang daunnya tertiup angin siang. Suasana kamar terang, tapi hati mereka gelap oleh pikiran yang saling bersimpangan. Beberapa menit berlalu tanpa kata. Hanya ada suara angin AC yang bertiup pelan. Akhirnya, Mama Nenny membuka suara. "Kita

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN