Menjelang malam itu rumah Safira terasa sepi. Arda baru mau tidur setelah minum ASI, dan Rio sedang menggendongnya setelah pulang kantor. Clarissa duduk di sofa di kamarnya sambil melihat ponsel, membaca update dari WO hasil pertemuan tadi siang yang tidak ia hadiri. Jemarinya bergerak teratur, tanpa beban. Pintu kamar diketuk pelan. "Ris, Mama masuk ya?" Clarissa sedikit mendongak. "Masuk aja, Ma," jawabnya santai. Safira membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di samping Clarissa dengan gerakan pelan, seolah memilih tempat duduk yang tidak memicu sesuatu yang rapuh. Clarissa langsung tahu ini bukan kunjungan biasa. "Sudah tidur?" tanya Safira ke calon menantunya, Rio yang masih menggendong Arda. "Sudah, Ma.." jawab Rio yang sudah memanggil Mama kepada Safira. "Jangan digendong

