Malam itu kamar hotel di Melbourne terasa lebih dingin dari biasanya. Bian baru saja selesai mencatat jadwal penerbangan besok menuju Jakarta. Mata sudah berat, tapi pikirannya tetap terjaga penuh kesadaran. Ucapan Bi Bitha terus mengiang di kepalanya. "Minta maaf dengan cara yang benar …" "Jangan buka rumah tangga dengan hutang perasaan yang belum lunas…" "Apa pun yang terjadi, duduk dan selesaikan…" Dan yang paling menembus: "Kamu selingkuh, Bi." Kalimat itu seperti batu kecil yang dilempar tepat ke danau tenang membuat riak yang sulit hilang. Walau ia terus-terusan menyebutkan kalau ia dan Nadira tidak punya hubungan apa-apa pada masa ia masih tunangan Clarissa, itu tidak berlaku untuk Bi Bitha. Bian menatap ponselnya. Sudah pukul delapan malam di Melbourne. Berarti Jakarta m

