Sore di Edinburgh. Nadira duduk di sofa kecil ruang tengah, ia baru pulang bahkan belum mandi. Ponselnya terus ia genggam, seolah menunggu kabar penting. Ketika layar menyala dan nama Bian muncul, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia menjawab tanpa ragu. "Hai, Bi," sapanya pelan. Bian muncul di layar dengan wajah lelah tapi lega. Ia sedang di kamarnya "Sayang," jawabnya. " kamu sudah di apartemen ya?" "Iya, tadi rencananya mau nelpon di jalan tapi aku pengen langsung pulang aja," jawab Nadira, "Gimana ketemuannya tadi?" tanya Nadira to the point. Memang itu kabar yang ia tunggu-tunggu dari tadi. Bian menarik napas panjang. Ada ketenangan yang tidak ada semalam. "Itu … lancar," katanya. "Alhamdulillah lancar." "Clarissa nggak marah sama kamu?" "Nggak. Dia… surprisingly cal

