Sejak hari itu, keseharian Nadira pelan-pelan berubah, meski dari luar terlihat nyaris sama. Ia masih bangun pagi, masih duduk di kamar atas rumah Warung Buncit, masih membuka tirai untuk membiarkan cahaya matahari masuk. Tapi ada satu hal yang kini menjadi pusat dari semuanya: keberadaan Bian. Hari-hari ketika Bian tidak terbang adalah hari-hari terbaik bagi Nadira. Pagi itu, misalnya. Nadira terbangun dengan kepala sedikit berat dan perut yang bergejolak halus, tanda mual yang selalu datang tanpa aba-aba. Namun begitu ia bergeser mendekat, merasakan lengan Bian yang hangat melingkar di pinggangnya, semuanya terasa jauh lebih mudah. Ia menempelkan hidung ke d**a suaminya, menghirup dalam-dalam. Aroma Bian. Bukan sekadar parfum. Ada bau kulit, bau sabun, bau pagi yang segar. Dadanya

