Pedesaan adalah tempat paling nyaman untuk menenangkan pikiran. Di sini aku dan Mama kembali menata kehidupan yang sempat porak-poranda akibat keserakahan beberapa orang. Luka yang kami derita sangat dalam dan mungkin membutuhkan waktu untuk menyembuhkan dan menghilangkan bekasnya. Kini tinggal kami berdua karena Opa memilih pergi lebih dulu. Meninggalkan kedua perempuan yang begitu mencintainya. Hanya Opa yang tulus menyayangiku dan Mama. Anggota keluarga lainnya pura-pura baik agar posisi di rumah sakit tetap aman. Benar kata Papa Arman jika putraku tidak mau diajak pulang ke Jogja. Si anak bayi itu sudah betah berada di Tawangmangu. “Adek, sini,” panggil ku. “Mandi dulu, Sayang.” “Anti aja, Mi.” Tolaknya, masih asik memanen strawberry. Aku menyewa satu villa milik keluarga Mas Aima

