Dewa merasakan tubuhnya seperti kehilangan tulang belulang yang menyangganya. Pria itu terduduk lemas. Ponsel tak lagi berada di dalam genggaman tangannya. Benda penghubung itu sudah tergeletak mengenaskan di lantai mobil. Terjatuh begitu mendengar nama panjang anak kecil itu. Anak yang biasa dipanggil Lingga. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin nama belakang anak itu … Hutama? Dewa tidak habis pikir. Bukan hanya tulang belulangnya yang seperti hilang diterpa angin, hingga membuatnya begitu lemas. Namun, isi di dalam kepalanya juga seperti tak lagi ada. Kosong. Pria itu menatap lurus ke depan dengan tatapan … kosong. Di depan, lebih tepatnya di belakang kemudi–sosok yang sedang melajukan kendaraan roda empat milik sang tuan itu melirik ke arah spion tengah untuk ketiga kalinya, setelah me

