Mendengar pengakuan itu lidahku kelu. Tubuhku mematung seolah rohku baru saja ditarik keluar saking kagetnya. "Mas." Suaraku tercekat dan hanya bisa mencicit pelan. "Kamu serius?" Kalandra tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mencondongkan wajahnya dan hidungnya menyapu pipiku yang basah oleh sisa air mata serta keringat. "Kamu mau punya anak kan Sayang?" bisiknya di depan bibirku. Aku mengangguk patah-patah karena masih berusaha mencerna informasi besar ini. "Tapi kenapa nggak bilang pas kamu lakuin itu? Operasinya gimana? Apa kamu sakit?" "Kamu lihat aku baik-baik saja, kita masih sangat nikmat saat berhubungan kemarin?" Aku terdiam, tapi aku masih cemas. Kalandra menatapku lekat. Ada sorot rapuh di mata elangnya yang biasanya tajam itu. Dia menangkup wajahku dengan kedua t

