Aku berdiri di puncak tangga, mengeratkan kimono tidur berbahan sutra yang menutupi tubuhku. Rasa nyeri sisa hukuman semalam masih terasa di beberapa titik, membuat langkahku sedikit pelan. Namun, pemandangan di lantai bawah membuatku harus menahan nyeri itu. Sementara itu, Kalandra sibuk di pantry kering. Punggung tegapnya membelakangi ibunya. Dia menyusun piring berisi nasi goreng dan potongan buah ke atas nampan kayu dengan gerakan kaku. Tidak ada sapaan. "Alan," suara Ibu Marine terdengar lirih, mencoba memecah es batu di antara mereka. Kalandra tidak menoleh. Dia menuangkan air putih ke dalam gelas. "Ibu sudah urus laki-laki bernama Dito itu," lanjut Ibu Marine. Beliau mencoba terdengar tegar. "Ibu sudah periksa data pelanggannya. Ternyata dia anak dari rekanan bisnis lama ya

