Hening menyelimuti kamar kami setelah kalimat itu meluncur dari bibirku. Aku menunggu reaksi meledak atau setidaknya senyum lebar yang biasanya terpancar dari wajah para suami saat istrinya menawarkan kehadiran buah hati. Namun Kalandra hanya diam. Tubuhnya yang tadi rileks saat memeluk pinggangku kini menegang. Kalandra perlahan melepaskan pelukannya. Ia menegakkan punggung lalu beranjak dari posisi bersimpuhnya. Wajahnya datar dan sulit dibaca. "Mas Alan," panggilku pelan. Kalandra tidak menoleh. Ia berjalan menuju nakas dan meraih ponselnya yang bergetar. "Aku harus angkat telepon ini. Elang butuh konfirmasi soal berkas tuntutan Paman Prabu," ujarnya dengan nada yang terdengar terlalu formal. Aku tertegun. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas dadaku. Aku menco

