Waktu seolah merayap lambat di dalam apartemen mewah ini. Pagi hari selalu dimulai dengan wajah Suster Rini yang tersenyum sopan. Dia datang membawa nampan berisi obat-obatan dan alat pengukur tekanan darah. Rutinitas itu sudah berjalan selama lima hari berturut-turut. Aku harus menelan butiran vitamin yang ukurannya cukup besar dan membiarkan lenganku dililit manset tensimeter. Siang hari tidak jauh berbeda. Paket makanan katering dari ahli gizi datang tepat waktu. Menunya selalu sehat. Terlalu sehat malah. Ikan kukus tanpa garam berlebih. Sayuran rebus yang warnanya masih hijau segar tapi rasanya tawar. Nasi merah yang teksturnya sedikit kasar di lidah. Aku merindukan sensasi pedas sambal bawang atau gurihnya kuah soto santan. Tapi setiap kali aku hendak protes, bayangan wajah ce

