Kalandra memposisikan dirinya di antara kedua kakiku yang terbuka lebar di dalam air. Tangannya yang besar dan kokoh mencengkeram pinggulku, menahan bobot tubuhku agar tetap stabil di pangkuannya. Dia tidak langsung menghujam. Kalandra menempelkan kepalanya di miliknya yang sudah mengeras sempurna tepat di bibir kewanitaanku yang basah dan berdenyut. Dia menatap mataku lekat, sorot matanya gelap, penuh kabut hasrat namun juga ada kesungguhan yang mematikan di sana. "Tatap mataku, Alea," perintahnya dengan suara bariton yang serak dan berat. "Jangan berkedip. Aku ingin kamu melihat saat aku memasuki mu. Aku ingin kamu sadar sepenuhnya siapa yang sedang mengklaim tubuh ini." Aku menahan napas, tanganku mencengkeram bahu lebarnya yang licin oleh air dan sabun. "Mas..." Dia tiba-tiba

